Jumat, 08 Januari 2016

Belajar Bersabar



Saat di Jepang sedang musim panas, suhu udara rata-rata, baik di siang maupun malam hari hampir selalu diatas 30 derajat celcius, bahkan kadang mencapai angka antara 36 hingga 40 derajat. Terik matahari begitu menyengat, memanggang kulit hingga mengubah warna jadi kecoklatan.
Saat-saat demikian, menjadi ujian tersendiri bagi saya sebagai seorang muslimah yang ingin selalu mempertahankan diri tampil dengan busana yang rapat membalut seluruh tubuh. Model busana yang dianggap melawan arus oleh kebanyakan orang Jepang, hingga membuat aneka pertanyaan hinggap ketika kami saling bertemu. "Atsu kunai desuka?" (apa tidak panas?), "Kenapa pakai pakaian seperti ini?" dan sebagainya.
Di sisi lain, penampilan wanita yang serba buka-bukaan di mana saja, menjadi polusi yang membuat mata ini terasa nyeri. Timbul rasa malu karena seolah melihat diri sendiri dalam keadaan minim busana, serta kegundahan hati yang begitu dalam karena tak mampu menjadi pengingat bagi mereka. Kaum adam pun harus menundukkan pandangan lebih dalam, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, karena melihat lawan jenis dengan pakaian yang benar-benar minim, bertebaran di seluruh kawasan.
Dalam kondisi seperti inilah, pelajaran bersabar dalam menunaikan ketaatan pada-Nya, dan bersabar dalam menghindari maksiat terasa memiliki nilai lebih dari hari-hari biasa, karena tantangannya lebih berat dan lebih beragam.
Di samping hal-hal di atas, musim panas juga merupakan sarana latihan khusus untuk tetap taat pada perintah-perintah-Nya, bagi kaum mukmin. Malam yang pendek dan siang yang panjang, mengubah ritme kehidupan dan jadwal ibadah. Sementara, waktu tidur tidak bisa digeser lebih awal, supaya tidak kesiangan bangun salat subuh, karena jadwal kerja tetap seperti hari-hari biasa, yang rata-rata baru pulang di atas jam sembilan malam.
Bila di Indonesia kita bisa mengatur waktu secara rutin sesuai dengan waktu-waktu salat yang hampir selalu tetap, maka di musim panas hal ini sulit untuk dilakukan. Jarak waktu antara salat subuh dan zuhur begitu panjang, sementara jarak waktu antara sholat isya' dan sholat subuh cukup pendek. Seperti yang saat ini terjadi, salat subuh sudah masuk waktu pada jam 03.04, zuhur jam 12.03, asar jam 15.50, maghrib jam 19.17, dan isya' jam 20.56.
Bila kita puasa, maka kita harus menahan haus dan lapar selama 16 jam lebih, di tengah suasana panas yang membuat tenggorokan kering dan melahirkan rasa haus. Di sinilah salah satu bentuk ketaatan seorang mukmin kepada Allah SWT teruji. Akan mampukah kita mengendalikan hawa nafsu, memenej jiwa dan raga agar tetap taat pada-Nya, atau sebaliknya. Saya sendiri pernah melihat, beberapa wanita muslim yang tadinya berbusana muslimah, mengurangi ukuran bajunya dan melonggarkan kerudungnya, atau bahkan lepas sama sekali karena merasa terlalu panas. Adapula seorang kawan yang bercerita, "Siapa yang mau bangun subuh jam tiga pagi, orang baru tidur sebentar." Na'udzubillahi min dzaalik.
Demikianlah, musim panas memang menjadi sarana belajar bersabar bagi kita. Sabar dalam menunaikan ketaatan, dan sabar dalam menghindari maksiat kepada-Nya.
Sungguh benar firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: ."..Yaa Rabbanaa, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imron: 191).
Rabbanaa, afrigh 'alainaa sabran Wat tawaffanaa, muslimiin.
Yaa Rabbanaa, karuniakanlah kesabaran kepada kami,
Dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.
Aamiin, yaa Rabbal 'aalamiin.
Wallohu a'lam bishshowwab.

Kamis, 07 Januari 2016

Cerpen Jangan Pisahkan Cinta Kami

Pagi yang cerah.
“Pie.. Bangun ayo sudah siang, Delsa sudah di depan!” teriak mama sambil menarik selimut yang ku pakai.
“hmm…” Tarik selimut lagi.
“Pie, jangan tunggu Mamah marah Pie.” Sembari menarik selimut dengan suara tegas
Pie yang tadinya masih ngantuk berat langsung berlonjak ke kamar mandi.
Sesampainya di meja makan
“Mah.. Papah mana Mah?” ucapnya mengalihkan pandangan mamah yang seakan mau melahap tubuhku.
“sudah cepat sarapan, Delsa sini Nak sarapan dulu yuk”
Delsa adalah teman Pie dari kecil sampai sekarang Pie sudah SMP. Iya.. Mereka baru beranjak dewasa. Persahabatan mereka sudah terjalin saat orangtua Delsa memutuskan kerja jadi pns di sekitar rumah Pie. Kawasan pendidikan nusantara. Saat itu Pie dan Delsa belum lahir. Maka dari itu mereka sangat erat persahabatannya seperti handphone dan pulsa tak berarti jika salah satunya tiada.
“Mah.. Pie mau maen sepeda dulu ya Mah” sembari ngeluarin sepeda.
“belajar dulu Pie, baru Mamah izinin” ucap mamah bernada tegas.
Mamah Pie termasuk orang yang keras, tegas, dan galak tapi beliau penyayang. Mungkin karena biar anaknya nurut dan tidak bandel. Ayah Pie bekerja sebagai pns yang sering ditugaskan ke luar kota.
“Pie. Apaan sih kamu mah betah banget ya belajar mulu. Kamu udah pinter kok, kita maen aja yuk.” ucap Delsa membujuk Pie menatap wajah Pie yang sedari tadi sibuk dengan bukunya.
“pinter dari mananya, aku sama kamu aja masih bagus nilai kamu sa” sambil memainkan mata ke kanan ke kiri.
“eits. Kita itu anak yang pintar, udah ah main yuk, bete..” bujuk Delsa nutup buku yang dipegangnnya.
“sama, aku juga bete. Tapi alasannya gimana sama Mamahku? Gimana mau ke luar kandang macan kalau belum 2 jam sa”
“hmm.. Gimana kalau aku saja yang hadapi Mamah kamu Pie” sambil tersenyum manis memberi harapan.
“oke..” loncat ke luar kamar.
“Maaah. Mamah. Maah..”
“iya Pie mamah di ruang tengah” sahut mamah.
“sa aku deg-degan takut Mamah marah” Kata Pie memegang tangan Delsa.
“santai saja Pie.” Delsa melempar senyum.
“Tante.” sambil duduk di dekat mamah Pie.
“kenapa sa, kalian laper ya? Iya Tante belum masak bentar lagi ya Tante ke warung saja biar kalian bisa langsung makan” jawab mamah yang sedang sibuk nulis berkas.
“Maaaah. Kami belum lapar Mah” Greget Pie.
“kenapa? Kalian belum selesai loh jam belajarnya” tatap tajam mamah.
“iya bener Tante Delsa laper, Delsa mau izin ke rumah boleh kan? Mamah Delsa bikin kue tadi sms Delsa suruh ngambil. Boleh kan Tante?” jawab Delsa penuh harap.
“oh. Tentu saja boleh” kembali membuka berkas yang tadi ditutupnya.
“tapi sama Pie ya Tante, kan Delsa bawa sepeda gak bisa kalau sendirian” ucap Delsa penuh harap lagi.
“kalian ini alasan saja, ya sudah tapi nanti balik lagi ya cepet.” tegas mamah.
“iya Tante” angguk Delsa.
“ingat loh Ayah sama Mamah kamu lagi pergi kamu itu tanggung jawab Tante beberapa jam ini, jangan bandel Delsa” ucap mamah lagi.
“Maaaah. Masa anak orang kena marah juga” ucap Pie nada lembut.
“makasih Tante..” sembari salaman dan keluar menuju sepeda.
“sa, kamu bisa ajah bohong sama Mamah aku. Pinter bohong juga kamu sa” ucap Pie kayuh sepeda.
“siapa yang bohong nona cantik. Aku serius tahu” jawab Delsa bijak.
“apaan, tadi ingin main ngomongnya pas di kamar. Ih ngeselin emang” menghentikan kayuhannya.
“elah. Kita tetap main nona cantik, main ke rumah aku ngambil kue bikinan Mamah ku hahaha” ledek Delsa.
“ah bercanda kamu garing banget sa, sudah kamu saja ini yang kayuh” nada kesal.
“Assalamualaikum.”
“waalaikum salam anak-anak Mamah yang pinter” jawab mamah ramah.
“ini Tante dari Mamah Delsa buatan sendiri loh, Mamah lupa nganterin pas mau pergi” memberikan kue yang dipegangnya.
“eh kenapa anak Mamah yang satu ini kok cemberut gitu, perasaan tadi ceria pas mau keluar?” tanya mamah heran.
“iya itu perasaan Mamah aja kali” ketus Pie.
“Pie inget yah lanjutin belajar nanti malam Ayah pulang, jangan sampai bikin Ayah kecewa” tegas mamah.
Tanpa dihiraukan Pie langsung pergi menuju kamarnya.
“Pie.. Macam anak kecil tahu gak, masa marah sama Mamah yang sudah baik banget sama kamu sih.” Goda Delsa.
“baik dari mana, di hari libur gini ngurung anaknya di kamar disuguhin jajan yang anaknya cuma butuh udara luar. Itu dinamakan baik?” kesel Pie.
“eh.. Mamah kamu baik tahu.. Rela ninggalin kerjanya demi anak yang disayang” ujar Delsa.
“sudah jangan ngerayu lagi. Malezzzz!” loncat ke kasur.
Tiba. Tiba..
“Happy birthday to you. Happy birthday to you.”
Senyum Pie yang sedari tadi ketiduran hingga malam.
“selamat ulamg tahun anak Mamah yang pinter” mamah memeluk.
“selamat ulang tahun sayang” papah Pie melanjutkan.
“mah. Pah.. Makasih. Tapi ini bukan tengah malam kan Mah.. Gak mungkin juga Pie tidur sampe larut malam. Iya kan Mah, Yah.” Pie heran.
“ini masih jam 8 malam sayang. Ini rencana Mamah, Ayah dan Delsa” ucap mamah.
“Delsa. Mana dia mah.” kata Pie.
“aku di sini nona cantik..” sambil membawa kue tart yang bertulis angka 14.
“Delsa, Tante.. Om.. Kalian juga dateng” Pie berkaca-kaca.
“ini tiup dulu non lilinnya keburu abis loh” ucap Delsa menggoda.
“kamu tuh ya, ternyata ini rencana tadi siang bikin aku kesal. Tapi makasih sa.” Pie terharu.
“eitzzz. Masih ada surpise lagi Nak” ucap ayah Pie.
“apan Yah?” ucap pir heran.
“Ayah udah ngundang teman-teman sekelas kamu sayang dateng ke sini tepat jam 12 nanti” senyum mamah.
“beneran Yaaah?” menatap ayah.
“iya Pie, kita sayang banget sama anak Ayah yang nurut dan pinter” ucap ayah.
“makasih Yah.. Mah.” memeluk orangtuanya.
Itulah surprise kecil yang diberikan kedua orangtua Pie. Karena anaknya nurut dan pintar. Dan tak ada masalah karena surprise tengah malam itu masih hari libur sekolah. Betapa bahagianya Pie, dan dia lebih bahagia punya sahabat baik seperti Delsa. Berharap dan sangat berharap Delsa akan jadi teman selamanya sampai tua nanti.
Siang itu cuaca cerah.
“Nak, tumben kamu di rumah. Delsa ke mana?” tanya mama.
“Pie gak tahu Mah. Perasaan Pie kurang enak, Pie di rumah saja takut mau ke luar rumah” ucap Pie.
“tumben anak Mamah takut ke luar rumah” memegang pundak Pie yang dari tadi menatap jendela.
“serius Mah, perasaan Pie benar-benar gak tenang rasanya takut Mah, Ayah mana Mah?” Pie memegang erat tangan mamah.
“Ayah ke luar ke bengkel bentar sayang” nenangin Pie.
“telepon Ayah Mah, suruh pulang cepet” nada bingung.
“kamu ini ya sudah salat dulu sana biar hati tenang” bujuk mamah.
“Assalamualaikum.”
“Ayaah..” lari Pie dan langsung memeluknya.
“dari tadi Pie gak tenang nyuruh Ayah pulang” ucap mamah memandang mereka heran.
“Ayaah.. Ayah kenapa kok sedih?” sambil melepas pelukannya.
“Nak, kita siap-siap ke rumah sakit ya” ucap ayah cemas.
“rumah sakit? Siapa yang sakit Yah?” tanya Pie heran.
“Ayah. Siapa?” tanya mamah mengulang.
“Delsa, Delsa kecelakaan sama Ibunya pas mau pulang ke sini dari supermarket Mah”
“sopirnya langsung tewas di tempat, Ayah belum tahu kabar selanjutnya” jelas ayah.
“Delsa. Bu Tina..” mamah menangis.
Pie hanya terdiam dan meneteskan air mata mendengar berita buruk itu.
Cerpen Karangan: Tia Niez
Facebook: Tie’ya Niezz Ce Fiversmunawarahkoto.blogspot.cpm